Belajar Branding #7 – Kekuatan Media Sosial

Belajar Branding #7 – Kekuatan Media Sosial
Kamu kenal sama yang namanya Maicih? Siapa sih dia? Yeps Dua adalah brand Kripik pedas asal kota kelahiran saya, Bandung. Keripik ini cukup fenomenal karena kalau tidak salah dia lah keripik pedas pertama yang menggunakan level atau tingkat derajat kepedasann. wowww…. semakin tinggi levelnya, maka derajat pedasnya dijamin makin dahsyat dan membakar lidah anda. terus kenapa Maicih bisa sukses? Keripik pedas berbahan dasar singkong sih banyak yang jual. Tetapi keripik singkong pedas dengan derajat kepedasan yang berbeda, dikemas secara higenis, design kemasan dan logo yang menarik, plus metode marketing yang eksklusif yang menjadi pembeda Maicih dengan keripik pedas lainnya. Penasaran soal branding? bisa langsung ke situs Bikin Kaos Satuan

Satu hal yang menarik adalah strategi marketing dan branding dari keripik yang mulai dikreasikan di pertengahan tahun 2010 ini. Mereka menggunakan strategi marketing yang unik dan kreatif, yaitu dengan memanfaatan media sosial, khususnya Twitter dan Facebook. Hal ini dilakukan karena pangsa pasar mereka adalah anak-anak muda di Kota Bandung dan sekitarnya, yang saat itu sedang gandrung-gandrungnya menggunakan Twitter. Mereka (sejauh yang saya tahu) sengaja tidak membuka outlet atau toko khusus. Hal ini lah yang justru membuat konsumen penasaran. Pada awal kemunculannya konsumen betul-betul mengandalkan Twitter untuk mengetahui kapan dan di mana Keripik Maicih akan dijual. Akibatnya antrian konsumen yang ingin membeli menjadi sangat panjang. Selain menjual secara langsung, Maicih juga memiliki Reseller yang kemudian dinamai sebagai Jendral yang melakukan pemasaran secara direct selling.

Bagi saya, strategi Brand Maicih ini sangat cerdas, mereka membuat jaringan pemasaran yang eksklusif via media sosial. Hal ini lah yang membuat para konsumen secara sadar atau tidak, melakukan viral marketing yang sebenarnya dilakukan secara sederhana, yaitu dengan cerita dari mulut ke mulut. Ya, konsumen Maicih bersedia melakukan marketing via online (melalui media sosial) ataupun offline (melalui tatap muka) secara cuma-cuma. Metode marketing mulut ke mulut atau word of mouth, memang masih sangat efektif terutama di Indonesia.

Tak heran bila pada tahun 2011, Maicih terpilih menjadi The Hot Snack 2011 oleh majalah Rolling Stone Indonesia. Sungguh pencapaian yang luar biasa, dan semua itu hanya dilakukan melalui media sosial! Saat saya menulis tulisan ini, Facebook Page Maicih sudah di like oleh 94.627 orang, sementara itu Twitternya memiliki 1.908 following dan 42.700 followers, luar biasa bukan? Itu lah kedahsyatan media sosial di era internet seperti sekarang ini.

Sebagai sebuah brand, Maicih sangat aktif melakukan aktivitas online untuk membangun brandnya dan berkomunikasi dengan penggemarnya. Hal ini yang menyebabkan Maicih memiliki Brand Awarness yang baik di mata konsumen. Meski Maicih tidak memiliki outlet atau toko khusus, namun para konsumen sadar akan kualitas dan identitas produk yang ditawarkan tersebut. Brand Maicih yang sangat kenal dengan budaya sunda, terasa sangat akrab di konsumen, khususnya yang berasal dari Jawa Barat. Dalam hal ini, Maicih juga berhasil menunjukkan kepeduliannya pada perkembangan budaya sunda. Mereka secara rutin menggelar kegiatan yang melibatkan seniman Sunda, seperti wayang golek, jaipongan karinding, dan seni Sunda lainnya. Hal ini lah semakin memperkuat Brand Maicih sebagai brand lokal yang brand value sebagai brand asli Indonesia. Ulasan tentang brand asli Indonesia lainnya bisa diliat di situs Bikin Kaos Satuan

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *